Pertunjukan Teater Monolog

Posted: February 28, 2010 in Uncategorized

Heri Agus : Menjawab Kevakuman Pertunjukan Seni

Memukau. Itulah kata, yang mungkin bisa menggambarkan penampilan para Komunitas Seniman dan Budayawan Palangka Raya dalam pementasan teater monolog digelar di gedung Olah Seni Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kota Palangka Raya, Sabtu malam.

Teater monolog tersebut terdiri dua pementasan Dedi “Dodol” Eko Budi WS dengan Pengakuan Yudas Iskariot karya Tutur KH, dan Abdi Rahmat dengan “Aeng”/ Alimin Karya Putu Wijaya.

Besarnya antusias dalam pertunjukan terlihat dari banyaknya penonton yang hadir pada penampilan perdana teater monolog ini. Pertunjukan teater rencananya akan terus digelar setiap bulan minggu ketiga sampai akhir tahun 2010, bertempat di Gedung Olah Seni Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kota Palangka Raya Jl Tjilik Riwut KM 2,5.

Selama 3 jam, emosi penonton dibuat turun naik hingga terbawa ke suasana pertunjukan. Sesekali terdengar gelak tawa penonton menyaksikan kelucuan para pemain. Selain itu, naskah yang dibawakan para pemain penuh dengan kritikan terhadap berbagai persoalan bangsa saat ini, terutama masalah Korupsi, Kolusi dan Nepotisme, hukum serta keadilan, seperti pertunjukan Aeng / Alimin.

Monolog karya Putu Wijaya yang dibawakan Abdi Rakhmat tersebut menceritakan Aeng Alimin yang hidup bertahun-tahun dihukum sampai tua dalam penjara. Mula-mula ia masih punya harapan akan pengadilan berikutnya. tetapi ternyata putusan itu sudah final. Kemudian, ia mengharapkan akan ada pengampunan tetapi keputusan itu juga sia-sia, kerana banyak kasus lain yang mengubur nasibnya.

Hampir saat ia dibebaskan, tiba-tiba seorang wartawan membuka lagi kasus itu. Bukti-bukti baru muncul. Dengan tak terduga, ia muncul sebagai orang yang tak bersalah. Tetapi, sebelum pintu penjara dibuka kembali untuk memberikan kebebasan, orang itu mati menggantung diri.Bukan karena putus asa. Tetapi sebagai protesnya, mengapa keadilan memakai jam karet!!!!.

Koordinator Komunitas Seniman dan Budayawan Palangka Raya, JJ Kusni usai pementasan mengungkapkan, komunitas ini berdiri sejak 1 November 2009, sebagai gerakan kolektif untuk mengelola dan mengembangkan potensi seni budaya yang dimiliki Kalteng, sekaligus untuk menciptakan dan menjadikan Palangka Raya sebagai kota budaya dengan harapan menjadi lokomotif pengembangan kebudayaan di Kalteng.

“Karena kita merasa harus ada lokomotif untuk Kalteng. Idenya membangun kebudayaan Uluh Kateng beridentitas Kalteng, untuk memberikan kalteng dasar budaya guna menjadikan Kalteng besan bersama Uluh Kalteng,” ujarnya.

Sepengamatannya, aktivitas kesenian terutama seni peran sejauh ini terlihat macet, sedangkan potensi di kalteng menurutnya sangat besar. “Kita coba menghumpun semua kelompok termasuk suku Batak, Minang, Jawa dan sebagainya, kemudian nantinya kita harapkan lahir keudayaan hibrida, kebudayaan uluh kalteng yang beridentitas kalteng tentunya,”tambah JJ Khusni.

Dia sangat bersyukur pertujukan perdana tersebut mendapat antusias dari masyarakat Kota Palangka Raya. Kata dia, banyaknya pengunjung ini menandakan bahwa masyarakat kota Palangka Raya sebenarnya haus akan kesenian.

Sementara Kasi Pembinaan dan Pengembangan Kesenian Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kota Palangka Raya, Heri Agus Nakalelo, SE mengungkapkan, pertunjukan semacam teater monolog ini adalah untuk menjawab kevakuman pertujukan seni khususnya di Kota Palangka Raya, menurut dia salah satu penyebab kevakuman tersebut dikarenakan belum ada suatu wadah tertentu yang bisa memberi arti memuaskan audience, termasuk dari segi fasilitas gedung pertunjukan yang dinilai representatif.

“Kedepan kita berharap, tidak terus-menerus dalam kevakuman seperti katak dalam tempurung. Tapi harus lebih memperluas wawasan. Kita akui kita sangat tertinggal untuk presentase pementasan itu sendiri,” ungkapnya.

Ditambahkan dia, volume pertunjukan ditingkatkan, tentu saja akan beri bahasa dan bahana baru untuk perkembangan seni agar lebih modern, dalam artian kemampuan para seniman dalam seni garapannya bisa lebih profesional lagi.

Ia beranggapan, kegiatan semacam ini sangat berdampak positif memberikan multi player effect yang luas, tidak hanya bagi kalangan seniman dan budayawan, tapi bagi masyarakat luas.

“Ada streotip pandangan seni itu pemborosan, sebenarnya kesenian merupakan bingkai atau benteng budaya Negara, merupakan harga diri dan jati diri bangsa.” Pungkasnya. (Alamsyah)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s