Pertunjukan Teater Monolog

Posted: February 28, 2010 in Uncategorized

Heri Agus : Menjawab Kevakuman Pertunjukan Seni

Memukau. Itulah kata, yang mungkin bisa menggambarkan penampilan para Komunitas Seniman dan Budayawan Palangka Raya dalam pementasan teater monolog digelar di gedung Olah Seni Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kota Palangka Raya, Sabtu malam.

Teater monolog tersebut terdiri dua pementasan Dedi “Dodol” Eko Budi WS dengan Pengakuan Yudas Iskariot karya Tutur KH, dan Abdi Rahmat dengan “Aeng”/ Alimin Karya Putu Wijaya.

Besarnya antusias dalam pertunjukan terlihat dari banyaknya penonton yang hadir pada penampilan perdana teater monolog ini. Pertunjukan teater rencananya akan terus digelar setiap bulan minggu ketiga sampai akhir tahun 2010, bertempat di Gedung Olah Seni Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kota Palangka Raya Jl Tjilik Riwut KM 2,5.

Selama 3 jam, emosi penonton dibuat turun naik hingga terbawa ke suasana pertunjukan. Sesekali terdengar gelak tawa penonton menyaksikan kelucuan para pemain. Selain itu, naskah yang dibawakan para pemain penuh dengan kritikan terhadap berbagai persoalan bangsa saat ini, terutama masalah Korupsi, Kolusi dan Nepotisme, hukum serta keadilan, seperti pertunjukan Aeng / Alimin.

Monolog karya Putu Wijaya yang dibawakan Abdi Rakhmat tersebut menceritakan Aeng Alimin yang hidup bertahun-tahun dihukum sampai tua dalam penjara. Mula-mula ia masih punya harapan akan pengadilan berikutnya. tetapi ternyata putusan itu sudah final. Kemudian, ia mengharapkan akan ada pengampunan tetapi keputusan itu juga sia-sia, kerana banyak kasus lain yang mengubur nasibnya.

Hampir saat ia dibebaskan, tiba-tiba seorang wartawan membuka lagi kasus itu. Bukti-bukti baru muncul. Dengan tak terduga, ia muncul sebagai orang yang tak bersalah. Tetapi, sebelum pintu penjara dibuka kembali untuk memberikan kebebasan, orang itu mati menggantung diri.Bukan karena putus asa. Tetapi sebagai protesnya, mengapa keadilan memakai jam karet!!!!.

Koordinator Komunitas Seniman dan Budayawan Palangka Raya, JJ Kusni usai pementasan mengungkapkan, komunitas ini berdiri sejak 1 November 2009, sebagai gerakan kolektif untuk mengelola dan mengembangkan potensi seni budaya yang dimiliki Kalteng, sekaligus untuk menciptakan dan menjadikan Palangka Raya sebagai kota budaya dengan harapan menjadi lokomotif pengembangan kebudayaan di Kalteng.

“Karena kita merasa harus ada lokomotif untuk Kalteng. Idenya membangun kebudayaan Uluh Kateng beridentitas Kalteng, untuk memberikan kalteng dasar budaya guna menjadikan Kalteng besan bersama Uluh Kalteng,” ujarnya.

Sepengamatannya, aktivitas kesenian terutama seni peran sejauh ini terlihat macet, sedangkan potensi di kalteng menurutnya sangat besar. “Kita coba menghumpun semua kelompok termasuk suku Batak, Minang, Jawa dan sebagainya, kemudian nantinya kita harapkan lahir keudayaan hibrida, kebudayaan uluh kalteng yang beridentitas kalteng tentunya,”tambah JJ Khusni.

Dia sangat bersyukur pertujukan perdana tersebut mendapat antusias dari masyarakat Kota Palangka Raya. Kata dia, banyaknya pengunjung ini menandakan bahwa masyarakat kota Palangka Raya sebenarnya haus akan kesenian.

Sementara Kasi Pembinaan dan Pengembangan Kesenian Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kota Palangka Raya, Heri Agus Nakalelo, SE mengungkapkan, pertunjukan semacam teater monolog ini adalah untuk menjawab kevakuman pertujukan seni khususnya di Kota Palangka Raya, menurut dia salah satu penyebab kevakuman tersebut dikarenakan belum ada suatu wadah tertentu yang bisa memberi arti memuaskan audience, termasuk dari segi fasilitas gedung pertunjukan yang dinilai representatif.

“Kedepan kita berharap, tidak terus-menerus dalam kevakuman seperti katak dalam tempurung. Tapi harus lebih memperluas wawasan. Kita akui kita sangat tertinggal untuk presentase pementasan itu sendiri,” ungkapnya.

Ditambahkan dia, volume pertunjukan ditingkatkan, tentu saja akan beri bahasa dan bahana baru untuk perkembangan seni agar lebih modern, dalam artian kemampuan para seniman dalam seni garapannya bisa lebih profesional lagi.

Ia beranggapan, kegiatan semacam ini sangat berdampak positif memberikan multi player effect yang luas, tidak hanya bagi kalangan seniman dan budayawan, tapi bagi masyarakat luas.

“Ada streotip pandangan seni itu pemborosan, sebenarnya kesenian merupakan bingkai atau benteng budaya Negara, merupakan harga diri dan jati diri bangsa.” Pungkasnya. (Alamsyah)

Advertisements

Catatan Festival Seni Budaya Tingkat Pelajar SLTA Tahun 2009 di Buntok

Selama empat hari, 27 s.d 30 Oktober 2009 Kota Buntok, Barito Selatan dipenuhi oleh para Seniman. Para seniman tersebut datang dari berbagai Kabupaten dan Kota di Kalimantan Tengah. Kabupaten yang berjuluk Bumi Dahani Dahanai Tuntung Tulus itu memang punya gawe besar dalam rangka memeriahkan ulang tahun emasnya dengan menggelar berbagai kegiatan, salah satunya adalah festival seni dan budaya yang dikhususkan bagi para pelajar SLTA se Kalteng.

Festival ini dibuka oleh Wakil Gubernur Kalteng, Ir. H. Achmad Diran bertempat di stadion Batuah Buntok. Ratusan peserta dan official dari beberapa kabupaten/kota ikut ambil bagian dalam rangka HUT Emas Kabupaten Barito Selatan tersebut. Selain kegiatan Festival budaya, juga dirangkai dengan kegiatan lomba Drumband dengan memperebutkan piala Gubernur Kalteng.
Setelah dibuka secara resmi oleh Wakil Gubernur Kalteng, Senin (27/10) pagi, malam harinya pukul 19.00 WIB langsung digelar berbagai lomba, seperti penampilan vocal solo baik putra dan putri berlangsung di pentas terbuka Iringwito Buntok. Keesokan harinya, Selasa (28/10) dirangkai dengan lomba tari pedalaman, kemudian dirangkai dengan Tari Pesisir dan Lomba Lukis Legenda serta lukis Ornamen. Tuan rumah kali ini kembali menoreh prestasi meraih juara umum, dengan berhasil menyabet juara di berbagai kategori lomba.
Kegiatan festival tersebut merupakan kali keenam digelar, dipilih Kabupaten Barito Selatan sebagai tuan rumah tahun 2009, karena tahun sebelumnya kabupaten ini berhasil meraih juara umum. Memang, jika dilihat dari perkembangan lomba dari tahun ke tahun terus mengalami peningkatan yang signifikan dari segi kualitas termasuk tim juri dengan melibatkan pihak Departemen Kebudayaan dan Pariwisata.
Para peserta dari masing-masing Kabupaten/Kota merupakan orang-orang pilihan yang mewakili daerahnya masing-masing dengan membawa sejuta harapan meraih yang terbaik, karena berkaitan dengan prestise daerah. Apalagi panitia tingkat Provinsi mengharapkan para pemenang tersebut nantinya bisa mewakili Kalteng pada kegiatan serupa di tingkat Nasional tahun 2010 mendatang.
Kegiatan semacam Festival Seni Budaya tingkat pelajar SLTA ini memang sangat perlu untuk terus dilestarikan dan dikembangkan, paling tidak, ini sudah menjadi event tahunan sejak tahun 2003 lalu. Namun sangat disayangkan, walaupun merupakan kalender tahunan, kali ini kegiatan tersebut tidak diikuti oleh seluruh Kabupaten/Kota di Kalimantan Tengah.

Berdasarkan catatan Panitia, beberapa Kabupaten bahkan absen dari seluruh kegiatan lomba. Sangat ironis memang, lagi-lagi hal ini berkenaan dengan alasan klasik apalagi kalau bukan masalah dana.

Sebenarnya, berbicara masalah berkesenian, kecintaan dalam berkesenian perlu di tanamkan sejak dini, notabene mereka adalah usia sekolah, karena Kesenian berfungsi untuk menumbuhkembangkan sikap toleransi, demokrasi, beradab, hidup rukun dan mampu mengembangkan kemampuan imajinatif intelektual. Selain itu, ekspresi melalui seni juga berfungsi untuk mengembangkan kepekaan rasa, keterampilan dan kemampuan  serta bekal kelak mereka dewasa dalam hidup bermasyarakat.
Seni memang perlu diperkenalkankan sejak dini kepada anak terutama pelajar karena dapat membentuk karakter seorang anak yang positif dengan mengutamakan nilai-nilai yang ada dalam jati diri, bukan saja jati diri daerah tapi lebih luas lagi jati diri bangsa dan negara.
Dari berbagai manfaat tersebut, tentu saja menjadi lebih penting di sini dibutuhkan tekad dan niat Pemerintah Daerah yang benar-benar utuh dengan betul-betul menganggarkan dalam mata anggaran untuk mengirim perwakilannya dalam berbagai event atau kegiatan kesenian.
Tidak ada alasan untuk berkata “tidak” untuk memperjuangkan kelestarian berbagai seni dan budaya khas Kalimantan Tengah sejak dini, terutama kepada para pelajar. Seperti kita ketahui, sebagian seni dan budaya Kalteng hampir tenggelam begitu rupa ditelan ganasnya perkembangan jaman.
Tanpa perhatian dan adanya sentuhan pemerintah, kerja keras dan upaya para seniman atau penggiat seni dalam menekuni jenis seni garapannya di daerah khususnya Kabupaten/Kota di Kalteng tidak akan berarti apa-apa. Alasannya realistis, perjuangan menghadapi gelombang pengaruh seni modern bukanlah pekerjaan mudah yang bisa diselesaikan cukup hanya berbekal semangat dan tekad kuat saja.
Diantaranya yang dianggap jauh lebih penting adalah munculnya tekad dan niat pemerintah daerah yang benar-benar utuh  dalam memperjuangkan kelestarian berbagai seni dan budaya Kalimantan Tengah,  salah satunya, tentu ada wadah atau tempat untuk berlomba, menampilkan garapannya, seperti mengikuti Festival Seni dan Budaya termasuk tingkat pelajar SLTA di Buntok ini.
Jangan sampai hanya karena egosentris belaka, menganggap banyak hal yang lebih penting, sementara sesuatu yang sangat penting terutama dalam menjaga, melestarikan khasanah budaya dan kesenian Bumi Tambun Bungai sebagai warisan untuk anak cucu kita malah terlupakan. Generasi kita “berdosa” memutus mata rantai (Missing Link) khasanah budaya dan kesenian warisan nenek moyang kita terdahulu.
Jadi, pemerintah daerah untuk memperjuangkan, menggiat dan melestarikan seni budaya Kalimantan Tengah apakah masih beralasan karena tidak punya fulus alias dana? (Alamsyah)

solusi-pemanasanglobal-small

Proses perjuangan masyarakat dalam menyuarakan keadilan ekologi selalu dilakukan para aktivis yang peduli lingkungan, khususnya mereka yang konsen terhadap isu-isu lingkungan, namun hal itu belum cukup untuk merubah cara pandang masyarakat umum terhadap lingkungan, apalagi merubah kebijakan pemerintah yang merupakan salah satu faktor utama kerusakan lingkungan hidup termasuk di Kalteng.

Untuk menekan kebijakan lokal yang lebih berpihak pada lingkungan, dirasa penting untuk merangkul semua lapisan masyarakat, terutama golongan masyarakat sipil dan organisasi-organisasi sektoral yang selama ini menjadi agen perubahan, seperti golongan pemuda, mahasiswa, kaum tani, kelas buruh dan cendekiawan.
Kalangan ini harus dilibatkan dalam gerakan penyelamatan bumi dengan aksi nyata yang lebih progresif.

Perjuangan untuk memperoleh lingkungan yang lebih baik adalah perjuangan demokratis, yaitu perjuangan yang memiliki karakter luas, menghimpun segenap potensi demokratis massa di seluruh sektor, semua golongan untuk bersatu padu merebut hak-hak demokratis termasuk hak atas lingkungan yang selama ini belum dipenuhi oleh pemerintah yang berkuasa.

Dampak dari kerusakan ekologi akhir-akhir  ini yang diakibatkan tingginya emisi dan laju degradasi yang cepat mengakibatkan daya dukung ekologi semakin hancur, fakta tersebut karena diakibatkan negara-negara maju dengan industri dan konsumsi yang berlebihan dan isvestasi skala besar yang destruktif dan massif seperti perkebunan, tambang, HPH, energi dan eksploitasi gambut.

Dampak kerusakan ekologi sudah dirasakan oleh seluruh lapisan masyarakat dan mengancam keberlanjutan hidup umat manusia di bumi dengan terjadinya perubahan iklim yang mengakibatkan bencana dimana-mana seperti banjir, kekeringan, mencairnya es di kutub utara dan selatan karena meningkatnya suhu bumi dan mengancam ketahanan pangan masyarakat karena berpengaruh di sektor pertanian.
Dampak tersebut juga dirasakan oleh masyarakat yang ada di Kalteng, sehingga penting untuk menyuarakan keadilan iklim bagi masyarakat Kalteng dalam membendung kerusakan hutan.

Investasi Berbalik Menjadi Malapetaka

Persoalan lingkungan dari hari ke hari semakin pelik dan semakin parah kerusakannya. Hal ini diakibatkan kebijakan pemerintah yang lebih mengedepankan pertumbuhan ekonomi dari modal asing atau investasi dianggap sebagai dewa penolong, tapi dalam kenyataannya malah menjadi mala petaka bagi rakyat.

Bisa dibayangkan beberapa kerugian yang ditanggung oleh masyarakat dari pada untungnya dan tak terhitung jumlah penggusuran yang dilakukan perusahaan-perusahaan, baik perkebunan maupun perusahaan terhadap rakyat yang notabene telah tinggal lebih dulu dari berdirinya perusahaan tersebut.

Banyak sekali petani yang telah dan sedang akan kehilangan tanahnya akibat ulah rakus para pengusaha yang tidak bertanggung jawab, dan yang paling parah tindakan mereka mendapat restu dari pemerintah kita. Hal ini menunjukkan bahwa prilaku pemerintah juga sama-sama dinilai tidak bertanggung jawab mengenai kerusakan ini.

“Tidak ada yang lebih kejam dari pembunuhan kecuali mengingkari hak rakyat atas tanah dan menggusur rakyat dari tanahnya dengan cara yang semena-mena sehingga rakyat menjadi melarat dan jatuh miskin,” .

Masyarakat bisa lihat di sekitarnya, bencana alam telah dipanen dimana-mana akibat rusaknya alam menjadikan rakyat dihantui perasaan tidak menentu akibat ancaman bencana yang terus mengintai. Banyak petani kehilangan lahan garapan dan berubah menjadi miskin karena kehilangan pekerjaan, kalau pun ada pekerjaan mereka dipaksa untuk menjadi buruh upahan yang siap digaji murah tanpa jaminan kesejahteraan. (Alamsyah)

n1067784167_30187100_3522Partisipasi masyarakat dalam pengembangan daerah tujuan wisata di Kalimantan Tengah dirasa masih rendah. Hal ini antara lain disebabkan karena tidak adanya ketentuan jelas dan merinci tentang keterlibatan masyarakat dalam pengembangan daerah tujuan wisata (DTW).

Sejauh ini kebijakan tentang peran serta masyarakat dalam pengembangan pariwisata hanya berisi himbauan agar masyarakat diikut-sertakan dalam upaya pengembangan tersebut tanpa adanya penjelasan persyaratan, tata cara dan tahap-tahap pelaksanaan.

Selain kurangnya peran serta masyarakat, juga hambatan dan halangan utama yang dihadapi dunia pariwisata adalah tradisi politik dan budaya Indonesia yang kurang mendukung, kondisi perekonomian yang kurang baik, kurang keahlian di bidang kepariwisataan, kurang saling pengertian antar pihak-pihak terkait, dan kualitas sumber daya rendah serta keterbatasan modal masyarakat.

Kegiatan pariwisata merupakan salah satu bentuk kegiatan industri berbasis masyarakat atau komunitas, artinya bahwa sumber daya dan keunikan komunitas lokal baik berupa elemen fisik maupun non fisik yang melekat dalam masyarakat merupakan salah satu unsur penggerak utama kegiatan pariwisata.

rumah_betang_tumbang_gagu2Departemen Kebudayaan dan pariwisata RI bekerjasama dengan Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kota Palangka Raya punya program khusus dengan melibatkan masyarakat sebagai lini terdepan pelaku pariwisata ini. Kegiatan itu bertajuk  sadar wisata dan sapta pesona, ini dianggap penting karena berkaitan dengan pembangunan dan pengembangan sektor pariwisata pada umumnya.

Masyarkat lokal sesungguhnya telah menjadi bagian dari sistem ekologi yang sangat terkait, karena merekalah yang hidup berdampingan dengan satu obyek wisata, dimana posisi dan fungsi mereka sangat penting sebagai salah satu stake holder dalam pengembangan kepariwisataan dan pemanfaatan obyek wisata.

Di Kalimantan Tengah sendiri,  jika dibanding dengan provinsi lainnya, kondisi sektor pariwisata masih dalam tahap pembenahan, sebagian besar obyek dan daya tarik wisata yang ada saat ini masih dikelola oleh pemerintah daerah. Sebenarnya, keberadaan obyek dan daya tarik wisata tersebut menyebar merata di masing-masing kabupaten dan kota se-Kalteng.

Dengan banyaknya obyek dan daya tarik wisata tersebut diharapkan nantinya bukan hanya pemerintah, namun keterlibatan pihak swasta dalam hal ini investor juga sangat diperlukan terutama dalam hal memberdayakan masyarakat lokal, sehingga diiringi dengan peningkatan kualitas SDM yang ada, dengan begitu akan berdampak kepada peningkatan kunjungan wisata domestik dan manca negara ke Kalteng.

Seiring dengan meningkatnya pemahaman akan posisi masyarakat sebagai stake holder penting bagi suksesnya pengembangan pariwisata, maka akan tumbuh bentuk pemberdayaan masyarakat dalam pengembangan destinasi pariwisata, meliputi, peningkatan potensi, kapasitas dan peran masyarakat, peningkatan usaha ekonomi masyarakat dan peningkatan sadar wisata seperti yang digalakan.

Pemko melalui Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kota Palangka Raya tentunya berupaya keras untuk terus mendorong kesiapan masyarakat sekitar obyek dan daya tarik wisata, para mahasiswa, tokoh masyarakat, tokoh agama, dan para pemangku kepariwisataan untuk dapat menjadi tuan rumah yang baik, serta mendorong pergerakan perjalanan nusantara maupun mancanegara ke Kota Palangka Raya. (Alamsyah)

Wisata Kalteng Potensial

Posted: April 7, 2009 in Uncategorized

dscn0117Meski diakui belum berkembang, namun obyek wisata alam yang ada di Kalteng sangat berpotensi untuk mendatangkan turis dalam dan luar negeri. Yang perlu dilakukan sekarang adalah, mengolah potensi itu agar menjadi primadona yang mampu menarik wisatawan.

Salah satu caranya, membenahi sarana dan prasarana penunjang obyek wisata tersebut, seperti membuat program menarik, membenahi transportasi, membangun hotel yang nyaman serta menciptakan suasana kota yang aman dan nyaman bagi wisatawan yang datang.

Hal ini sangat penting, saat wisatawan datang untuk mengunjungi obyek wisata di Kalteng, mereka merasa nyaman dan enak. Sehingga kesan ini akhirnya tersebar baik diantara wisatawan dalam maupun luar negeri.

Untuk itu Pemerintah Kalteng diharapkan dalam membangun infrastruktur sebaiknya didasari dengan lokasi obyek wisata. Hal itu diyakini mampu memberikan manfaat yang baik bagi pembangunan daerah dan pengembangan obyek wisata itu sendiri.

Beberapa kawasan di Kalteng sebenarnya banyak yang berpotensi untuk berkembang, diantaranya kawasan Taman Nasional Tanjung Puting (TNTP) dan kawasan Arboretum Nyaru Menteng. Termasuk daerah pendalaman karena banyak obyek wisata yang cukup memikat, seperti Batu Suli Kabupaten Gumas, Daerah Pantai di Kotim atau wisata air terjun di daerah Barito.

Pemerintah Provinsi Kalteng memang tak hanya diam berpangku tangan untuk menggaet para wisatawan berkunjung ke Tambun Bungai, Pemprov  tengah gencar-gencarnya melakukan promosi wisata alam dan budaya Kalteng, baik kepada wisatawan dalam dan luar negeri, seperti promosi di Bali, Jakarta (Taman Mini Indonesia Indah) hingga ke New Zealand.

Termasuk berbagai event semisal  Festival Isen Mulang dan pagelaran Budaya Dayak Nasional.Diharapkan melalui ajang ini dapat tersebar luar dan menjadi magnet bagi wisatawan dalam maupun luar negeri untuk datang berkunjung dan mengenal Kalteng lebih dekat.

Selain promosi yang gencar saat ini Pemprov juga melakukan pembenahan sarana dan prasarana, termasuk pembinaan terhadap hotel-hotel yang ada disamping juga menginventarisir obyek wisata yang potensial. (Alamsyah)

n1067784167_30187097_2657Pembinaan sadar wisata dan sapta pesona yang dicanangkan pemerintah pusat menjadikan masyarakat sebagai lini terdepan sebagai pelaku dalam hal pariwisata. Karenanya, ada beberapa hal yang menjadi target program ini terutama memberikan pengertian, pemahaman tentang pariwisata kepada masyarakat.

“Sehingga masyarakat bisa melihat pariwisata sangat bermanfaat untuk kehidupannya. Dan secara nasional bahwa tujuan akhir pembangunan untuk meningkatkan kesejahteraan kehidupan masyarakat,” jelas Kasubid Destinasi Ditjen Pariwisata RI,  Romli belum lama ini.

Khusus untuk Kalteng, banyak obyek pariwisata yang harus digarap. Menurut pengamatan pihaknya, perlu banyak pembenahan di Kalteng, dibandingkan daerah-daerah lain. Dia berharap, masyarakat di Kalteng khususnya, dapat memahami dan mengerti apa sebenarnya manfaat dari sektor kepariwisataan ini, sehingga masyarakat harus berperilaku terhadap pariwisata.

Pasalnya, kunci keberhasilan pariwisata ada empat komponen yang harus saling sinergis, dan tidak memandang bahwa satu lebih penting dari yang lain. Yaitu, potensi, akses, dukungan fasilitas penunjangnya, dan masyarakatnya, sebagai pelaku.

”Kalau masyarakat tidak jalan, pasti sulit untuk mengembangkan pariwisata,” tandasnya.
Misalnya, apabila masyarakat memandang negatif wisatawan yang datang, dengan berperilaku tidak baik, contohnya mengganggu sehingga keamanan tidak kondusif, maka berpengaruh terhadap citra pariwisata. Sebab itu, masyarakat harus betul-betul siap sebagai pelaku dan sebagai tuan rumah, karena perilaku sangat berpengaruh sekali terhadap citra pariwisata.

Menurutnya, manfaat pariwisata yang lebih dulu menikmatinya adalah masyarakat. Sedangkan dilihat pada suatu obyek, misalnya wisatawan membeli makan di lokasi, menikmati hiburan di lokasi.
Kenapa Bali lebih dikenal? jelas Romli, karena Provinsi Bali memang sudah lebih lama, dan masyarakatnya katakanlah sudah mendarah daging dan menyatu.

“Jadi, tanpa pariwisata mereka tidak bisa hidup layaknya. Jadi begitu ada Bom Bali, mereka bersama-sama merasakannya sekali. Masyarakat sudah merasakan satu nafas seperti Bali, Insya Allah pariwisata di Kalteng bisa maju.  Untuk itulah tugas kita mempromosikan ke luar bahwa Indonesia tidak hanya punya provinsi, tapi juga provinsi lain,” tuturnya. (Alamsyah)

Tantangan Sektor Pariwisata!!

Posted: April 7, 2009 in Uncategorized

n1067784167_30187096_2362Benar-benar sebuah tantangan bagi kita semua masyarakat Kalteng guna mendukung sektor pariwisata untuk meraih devisa.

Data Pusat Pengelolaan Data dan Sistem Jaringan, Departemen Kebudayaan dan Pariwisata, sekitar 80 persen atau 4,4 juta orang dari total wisman yang datang ke Indonesia itu merupakan wisatawan yang sudah pernah datang. Itu berarti, wisman yang datang loyal atau senang terhadap pariwisata Indonesia.

Wisman tersebut datang dari 12 pasar wisata utama Indonesia. Jumlah terbanyak berasal dari Singapura, yakni 1,46 juta orang. Kemudian Malaysia 941.202 orang, Jepang 593.784 orang, Australia 313.881 orang, Eropa dan Rusia 528.171 orang, Korea Selatan 423.098 orang, Cina dan Hong Kong 335.172 orang. Wisman asal Amerika Serikat sebanyak 154.846 orang, India 151.704 orang, Timur Tengah 45.735 orang dan Thailand 24.735 orang.

Kunjungan wisatawan mancanegara (wisman) ke Indonesia pada 2007 tercatat sebanyak 5,5 juta orang. Angka itu menjadi rekor tertinggi jumlah kunjungan wisatawan selama 10 tahun terakhir. Menggembirakan lagi, kunjungan wisatawan itu memberikan pemasukan devisa bagi negara sebanyak 5,3 miliar dolar AS, atau setara Rp 45 triliun.

Departemen Kebudayaan dan Pariwisata menargetkan kunjungan wisman pada 2008 sebanyak tujuh juta orang. Begitu pula, perkiraan pemasukan devisa sebesar 6,7 miliar dolar AS. Pemerintah optimis dapat mencapai target tersebut lewat program Tahun Kunjungan Wisata 2008 (Visit Indonesia Year 2008).

Kembali ke Kalteng, sebenarnya Pempro Kalteng telah menjalin kerjasama dengan Jatim dan Bali, akan tetapi muncul sedikit pertanyaan sudahkah tempat-tempat wisata tersebut dibenahi?. Luas Wilayah : 153.564 Km2 terdiri dari hutan belantara 126.200 Km2, rawa 18.115 Km2, sungai, danau dan genangan 4.563 Km2, tanah lainnya 4.686 Km2. Potensi meliputi obyek wisata yang berbasis Ekowisata (EcoTourism) tersebar di Kabupaten/Kota se-kalimantan Tengah dan obyek Wisata Budaya dimana masing-masing Kabupaten/kota mempunyai kalender kegiatan (Agenda Budaya) yang puncak acaranya adalah FBIM yang dilaksanakan pada 19-24 Mei setiap tahunnya dan Wisata Sejarah.

Memang data Dinas Pariwisata telah melakukan pendataan terhadap potensi yang ada, yang secara total berjumlah 53 potensi obyek wisata, tersebar di Kalteng. Kabupaten Kotim, Kobar dan Seruyan dinilai memiliki cukup banyak potensi, terutama laut dan tradisinya. Dari 3 (tiga) obyek wisata hanya Eko Wisata dan Wisata Budaya yang sudah mulai tertata akan tetapi Wisata Sejarah masih belum tergarap.

Sebagai contoh keberadaan Rumah Betang yang tidak terpelihara yang tentunya memerlukan perhatian yang sangat serius dari pihak terkait. Melihat contoh Rumah Betang Tumbang Gagu yang berusia 130 tahun merupakan aset wisata budaya dan sejarah yang tiada terkira nilainya sudah memasuki saat kritis, karena termakan usia, tentu ini sangat memerlukan perhatian kita untuk mempertahankannya.

Bagi yang pernah datang ke Betang Gagu kita hanya melihat bangunan tua terbuat dari kayu ulin yang menunggu nasib akan kehancuran bangunannya. Padahal jika, kita benahi Betang Gagu merupakan satu-satunya bangunan yang paling di kenal di manca negara karena keaslian bangunannya. Pada situs Internet malah daerah lain dan manca negara yang lebih dulu mempromosikan Betang Gagu sebagai bangunan terunik dan khas Kalimantan Tengah.

Mungkin ini hanya sebagian sedikit contoh sebagai masukan bagi pihak terkait agar apabila ada yang datang berkunjung kita tidak merasa rendah diri terhadap apa yang kita miliki. Semoga apa yang menjadi harapan kita untuk Kalteng yang kaya akan potensi alam, situs sejarah baik di darat maupun sungainya, dimana kekhasan tidak semua daerah yang memilikinya bisa mensejahterakan masyarakat Kalteng. (Alamsyah)